Buat kamu yang lagi galbay (gagal bayar) pinjol dan tiap hari HP-nya berdering gara-gara chat dari debt collector (DC), mungkin udah sering dengar saran begini: “Udah, jangan dibalesin.” Tapi, sebenarnya kenapa sih banyak yang bilang begitu? Emangnya apa akibatnya kalau sering bales chat DC pinjol?
Yuk, kita bahas bareng. Karena efeknya enggak cuma soal utang, tapi juga bisa ngacak-acak kesehatan mental dan bahkan hubungan keluarga kamu!
Balas atau Nggak Balas Chat DC, Itu Pilihan
Pada dasarnya, balas atau enggak balas chat dari DC itu hak kamu. Enggak ada hukum yang mewajibkan kamu untuk merespons pesan WhatsApp dari penagih utang. Tapi, yang jadi masalah bukan di balasannya—masalahnya muncul ketika kamu ikut dalam “permainan psikologis” mereka.
Banyak oknum DC (kita tekankan ya, oknum, karena enggak semua seperti ini) yang:
-
Terus menggiring opini,
-
Memberikan tekanan mental,
-
Ngancam-ngancam enggak masuk akal,
-
Bahkan bikin kamu percaya bahwa hidupmu sudah habis cuma karena utang.
Efek Psikologis
Kalau kamu terus-terusan membalas chat dari oknum DC yang kasar dan manipulatif, efeknya bisa sangat merusak. Nih, beberapa contohnya:
Kesehatan mental anjlok: kamu jadi cemas, takut, enggak tenang.
Fokus kerja hilang: kepikiran terus sama ancaman-ancaman yang belum tentu benar.
Emosi jadi enggak stabil: bisa meledak ke orang rumah, ke anak, ke pasangan.
Produktivitas hancur: yang seharusnya kamu bisa fokus cari solusi, malah tenggelam dalam rasa bersalah dan stres.
Bukan berarti kamu lari dari tanggung jawab ya. Tapi diam bukan berarti kalah—diam bisa jadi strategi untuk menenangkan diri, biar kamu bisa fokus ke hal yang lebih penting: cari uang untuk menyelesaikan utangmu sendiri.
Soalnya, utang enggak bakal lunas cuma karena kamu balesin chat DC setiap hari. Justru, yang bisa bantu kamu keluar dari lingkaran galbay adalah:
✅ Kerja keras.
✅ Fokus cari penghasilan tambahan.
✅ Berdoa dan minta pertolongan kepada Allah SWT.
✅ Dan yang paling penting: jaga mental tetap waras.
Jadi, Sebelum Balas Chat DC, Tanyakan Ini ke Diri Sendiri:
“Aku siap mental enggak?”
“Kalau aku baca ini, aku bakal stres enggak?”
“Apa chat ini bikin aku makin termotivasi cari solusi, atau justru bikin down?”
Kalau jawabanmu condong ke hal-hal negatif, jangan ragu buat tidak membalas dulu. Fokus dulu ke dirimu, ke pekerjaanmu, dan ke keluargamu. Kalau kamu udah kuat dan siap, kamu bisa komunikasikan semuanya dengan tenang dan bijak.
Ingat, banyak orang juga pernah berada di titik terbawah karena utang. Tapi mereka bisa bangkit, karena mereka berusaha dan tetap menjaga pikiran tetap waras. Allah enggak akan tinggal diam jika hamba-Nya terus berusaha dan berserah diri.










Komentar