Kampus Tanpa Buku: Ironi Literasi di Universitas Riau

RIAU727 Dilihat


Di tengah semangat perubahan yang kerap digaungkan oleh mahasiswa, ada satu persoalan mendasar yang nyaris tak pernah tuntas dibicarakan: budaya literasi.

Mahasiswa Universitas Riau, yang seharusnya berdiri di garda terdepan sebagai agen perubahan sosial, justru tengah
bergulat dengan realitas yang ironis. Literasi yang menjadi fondasi berpikir, berargumen, dan bersikap belum benar-benar hidup di lingkungan kampus.
Kajian yang dilakukan oleh BEM Universitas Riau dalam edisi keduanya mengungkap gambaran yang suram. Meski angka literasi nasional tercatat mencapai 98,2%, studi dari OECD memperlihatkan bahwa 70% siswa Indonesia kesulitan memahami ide pokok dari bacaan.
Fenomena ini ternyata turut membayangi kampus Universitas Riau. Tidak sedikit mahasiswa yang hanya membaca sekilas, tanpa kemampuan untuk mengevaluasi atau mengkritisi isi dari apa yang mereka baca.
Temuan menarik juga muncul dari kegiatan monitoring eksternal BEM UNRI ke berbagai
fakultas. Salah satu contoh paling mencolok adalah ketika sejumlah mahasiswa FKIP mengira bahwa Balai Bahasa Provinsi Riau yang berlokasi di sebelah sekretariat BEM FKIP adalah perpustakaan fakultas. Kesalahan persepsi ini bukan sekadar kekeliruan administratif, tetapi
mencerminkan betapa minimnya interaksi mahasiswa dengan fasilitas literasi yang tersedia.
Presiden Mahasiswa UNRI, Ego Prayogo, mengungkapkan kekhawatirannya. Baginya,
mahasiswa harus kembali menjadi akar pemikiran kritis yang membawa perubahan nyata. Namun semua itu hanya bisa dicapai jika budaya literasi dibangun secara kolektif. Literasi, menurutnya, bukan sekadar membaca, melainkan melatih cara berpikir dan menilai realitas
secara objektif.
Melengkapi pernyataan tersebut, Nur Huda Ananda selaku Menteri Riset dan Inovasi Mahasiswa BEM UNRI menyuarakan sesuatu yang lebih dalam. Ia menekankan bahwa literasi adalah kunci pembentukan karakter mahasiswa. Dalam kata-katanya yang menggugah, ia mengatakan: “Literasi membentuk integritas, literasi menajamkan nurani, literasi membangun peradaban. Jika
kita ingin adanya perubahan lebih baik, maka harapannya perubahan itu harus dimulai dari mahasiswa Universitas Riau yang literat dan berkarakter.” Pernyataan ini bukan sekadar himbauan moral, melainkan seruan akan tanggung jawab intelektual mahasiswa sebagai aktor utama dalam pembangunan masyarakat yang berpikir jernih dan bertindak bijaksana.

Baca Juga:  Wakajati Riau mengikuti Kegiatan Sosialisasi Pelaksanaan Survey Kepuasan Masyarakat (SKM), (SPAK), (SPKP), Kejaksaan RI Tahun 2024 secara virtual

Berbagai faktor menjadi penyebab lemahnya literasi di kampus. Fasilitas perpustakaan yang belum optimal, kurangnya variasi bahan bacaan, serta derasnya arus media sosial yang sering kali lebih menarik perhatian mahasiswa dibandingkan bacaan ilmiah. Akibatnya, mahasiswa
menjadi pasif secara intelektual. Mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam, cenderung reaktif, dan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

Dampak dari krisis literasi ini tidak hanya berhenti pada dunia akademik. Ia merembes hingga ke kualitas karakter mahasiswa. Kajian BEM UNRI menunjukkan bahwa rendahnya literasi berbanding lurus dengan sempitnya wawasan, berkurangnya toleransi, dan meningkatnya potensi terjebak dalam narasi-narasi hoaks serta ekstremisme digital. Padahal, sekitar 97% responden  mengakui bahwa membaca secara rutin berdampak positif terhadap sikap dan kepribadian mereka.

Namun, bukan berarti keadaan ini tak bisa diperbaiki. Solusi justru telah ditawarkan, salah satunya oleh dosen PGSD, Dr. Hendri Marhadi. Ia menyarankan perlunya sinergi antara institusi  pendidikan, dosen, dan mahasiswa untuk membangun ekosistem literasi yang hidup. Perluasan akses terhadap buku berkualitas, integrasi literasi dalam kurikulum, hingga pelibatan media sosial untuk konten literatif menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Lebih dari itu, kunci utama tetap ada pada kesadaran mahasiswa itu sendiri. Kesadaran bahwa literasi bukan semata tugas kuliah, tetapi fondasi untuk berpikir jernih, bertindak etis, dan menjadi manusia yang berdaya. Kampus yang hidup bukanlah kampus yang sibuk oleh seminar dan lomba, melainkan kampus yang berpikir dan itu hanya bisa terjadi jika budaya baca tumbuh, bukan sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan.

Kini Universitas Riau berdiri di persimpangan. Apakah akan terus melanjutkan tradisi minim literasi, atau memulai revolusi sunyi melalui buku, tulisan, dan diskusi? Jika mahasiswa benar ingin menjadi agen perubahan, maka langkah pertama adalah kembali ke buku dan dari sanalah peradaban dibangun.

Komentar