Seni Di Era Automasi: Kajian Persepsi Mahasiswa Tentang Komersialisasi Estetika Ghibli Melalui Teknologi OpenAI

News Update657 Dilihat

Pekanbaru(06/07/2025) – BEM Universitas Riau melalui Kementrian Riset dan Inovasi
Mahasiswa telah merilis Biru Langit Research Edisi 3 yang menyoroti perkembangan teknologi
kecerdasan buatan (AI) yang telah membawa perubahan besar dalam dunia digital seperti karya
visual dengan akurasi tinggi berdasarkan gaya Studi Ghibli.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya oleh OpenAI seperti
DALL·E 3 dan GPT-4o, telah membawa perubahan besar dalam dunia seni digital. Model AI
generatif kini dapat menciptakan karya visual dengan akurasi. Gaya Studio Ghibli yang dikenal
penuh keindahan estetika dan filosofi. Di Indonesia, penggunaan AI sudah menjadi fenomena
umum, bahkan negara ini menempati posisi ketiga dalam penggunaan AI terbanyak secara global.
AI generatif seperti diffusion model mampu meniru gaya visual khas Studio
Ghibli dengan menghasilkan gambar-gambar bernuansa magis, lembut, dan detail tinggi.
Fenomena ini memicu tren “Ghiblifikasi” di media sosial. Walau tampak inovatif, tren ini
menimbulkan pro dan kontra. Para pakar hukum dan komunitas seni menyoroti dilema hukum
dan etika dari replikasi gaya Ghibli oleh AI. Selain pertimbangan yang dilema antara hukum dan
etika, replikasi yang sangat mirip dianggap mengaburkan batas antara inspirasi dan plagiarisme.
Dr. Hendri Mahardi S.E, M.Pd yang merupakan salah satu dosen di Universitas Riau
memberikan tanggapannya atas hal ini, ia mengungkapkan “Fenomena ini menimbulkan dilema
antara kekaguman terhadap kemajuan teknologi dan kekhawatiran atas komersialisasi nilai-nilai
estetika yang selama ini dianggap sakral dan penuh makna. Mahasiswa sebaiknya memandang
teknologi kecerdasan buatan seperti OpenAI hanya sebagai alat bantu bukan sebagai modal
utama dalam berkarya”.
Melalui survei yang melibatkan 161 mahasiswa Universitas Riau, ditemukan bahwa 70%
responden pernah menggunakan AI untuk membuat gambar, menunjukkan keterbukaan terhadap
teknologi ini. Namun, mayoritas mahasiswa menyatakan bahwa karya AI tidak mampu
menyampaikan nilai kemanusiaan dan filosofi Ghibli. Dirjen Riset dan Teknologi BEM UNRI
yakni Randy Prayogi berpendapat bahwa “Persepsi mahasiswa tentang fenomena ini dapat
memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana teknologi dapat mempengaruhi dunia
seni dan budaya. Dengan memahami bagaimana teknologi OpenAI dapat mempengaruhi nilai
seni, baik secara postif maupun negatif”. Sekitar 67% responden menyebut bahwa karya AI
menghilangkan esensi seni, dan sebanyak 81.4% menyatakan bahwa komersialisasi estetika
Ghibli oleh AI adalah tindakan tidak etis. Ini menandakan kesadaran kritis mahasiswa terhadap
pentingnya keaslian dan nilai-nilai dalam seni. Mahasiswa juga menunjukkan keberpihakan pada
etika seni dengan menolak konsumsi karya Ghibli buatan AI. Sebagian besar responden (68.3%)
menyatakan tidak akan menonton film pendek Ghibli yang sepenuhnya dibuat oleh AI. Ego
Prayogo selaku Presiden Mahasiswa BEM Universitas Riau juga turut mengungkapkan
kehawatirannya terhadap isu ini, ia mengatakan “pemanfaatan AI ni memang bagus apalagi
memudahkan kita di dalam mengolah data, sumber-sumber informasi yang kita inginkan, tetapi
jika kita hubungkan ghibli memang harus di perhatikan apalagi marak menggunakan muka
seseorang yang bisa di salah gunakan suatu kepentingan”
Kajian BEM Universitas Riau menunjukkan bahwasannya terdapat peningkatan literasi
hak cipta dan etika digital, khususnya di kalangan mahasiswa dan kreator digital. Edukasi
mengenai hak cipta, atribusi, dan tanggung jawab etis sangat penting untuk menghindari eksploitasi karya seni oleh AI. Selain itu, pemerintah perlu merancang kebijakan hukum yang relevan dan progresif guna melindungi karya seniman serta mengatur karya hasil AI.

Baca Juga:  Ngeri!!Belum Ditenderkan, Kabid Sapras Dikjar Simalungun "Parolan Sidauruk" Diduga Sudah Jual Proyek

 

Komentar