ROBOHNYA PONDOK TANI KAMI

Oleh: Dr. ADLI (Ketua KJW HSI)

Kami mengatakan bahwa motivasi bertani masyarakat saat ini sangatlah rendah, bahkan sudah sampai ke titik nadir, masyarakat bertani karena tak punya pilihan lain, masyarakat bertani bukan karena pilihan sadar sebuah profesi. Hanya dari pada tidak ada kerja saja, menyedihkan sekali.

Kondisi ini sangat berbahaya untuk kemajuan pertanian ke depan. Tak ada kecintaan untuk profesi bertani, maka tak kan ada juga kesungguhan dalam membangun usaha tani, dan tak akan ada juga inovasi kreatif dalam melakukan usaha tani. Padahal kreativitas dalam berusaha tani sangat penting di era industri pertanian sekarang, yang dikuasai pemilik modal, dan lemahnya keterlibatan pemerintah dalam pemberdayaan petani.

Mengapa seorang petani malas bertani ? jawaban nya karena Bertani tak bisa memberi kehidupan yang layak, bertani sekarang tak dapat diandalkan untuk menopang hidup, hasil usaha tani hanya sekedar untuk menyambung hidup saja. Menyekolahkan anak saja sampai kejenjang yang lebih tinggi juga sudah antah berantah. Bisa dipastikan akan terjadi loss generasi petani untuk tahun-tahun yang akan datang, anak-anak petani sudah kecil kesempatannya untuk sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Itu satu persoalan besar bangsa kita, tak tahu kapan waktunya bisa terurai padahal Indonesia adalah negara Agraris, lahan yang luas dan subur ternyata tak bisa kita optimalkan untuk mensejahterakan masyarakat.

Banyak petani bertanya kepada penulis, bagaimana dengan program pemerintah. Kami katakan bahwa program pemerintah ADA, tapi belum efektif dan belum fokus kepada perbaikan lingkungan usaha tani

Lingkungan usaha tani itu ada 3 bagian penting: (1) Lingkungan usaha tanam; (2) Lingkungan usaha distribusi hasil; (3) dan Lingkungan usaha tata niaga.

Lingkungan usaha tanam problem besarnya sekarang adalah turunnya kualitas tanah dan berkurangnya air secara signifikan karena kerusakan hutan. Turunnya kualitas tanah telah berdampak tidak bisa nya tanaman hidup dalam jangka waktu. Daerah2 yg dulu adalah sentra hasil pertanian seperti cengkeh, pisang, jeruk, jahe, dll, sekarang tak berkembang bahkan hilang, hilang diakibatkan oleh masifnya hama dan penyakit tanaman. Kualitas tanah yang buruk berakibat tanaman mudah kena penyakit.

Fakta lain, kami menghitung dari data BPS Sumbar, ada 261 Ribu Hektar penurunan luas panen sawah di Sumbar sejak 2018 sampai 2023. Para pakar dan staf ahli sering bilang ini karena alih fungsi lahan untuk pembangunan perumahan. Menurut kami tak mungkin karena alih fungsi lahan yang sebesar itu, tapi lebih disebabkan kondisi sawah yang tak berair. Sawah liyek kata orang kampung.

Fakta lainnya, pertanian masif untuk komoditi tertentu masih bisa bertahan sampai sekarang, misal cabe, bawang, sayur-mayur holtikultura, dll. Tapi terpaksa full pupuk kimia dan full pestisida. Sekali 2 hari harus di racun, kami menemukam petani di satu tempat racun tanaman nya dicampur Autan dengan Baygon. Bisa kita bayangkan efek kesehatan jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat atas pemakaian pestisida yang tidak terkendali ini.
Lingkungan usaha tanam perlu kita perbaiki secara masif dan sistematis.

Kedua yang harus dibangun adalah lingkungan distribusi, antara lain mencakup transportasi dan penyimpanan (gudang) untuk penyangga hasil-hasil pertanian. Transportasi masih bisalah diatasi oleh masyarakat, tapi gudang, hampir tidak fungsional sekarang. Ada beberapa gudang yg sudah dibikin oleh pemerintah pusat, juga tidak dimanfaatkan dengan baik. Gudang berpendingin untuk hasil pertanian yg cepat busuk belum ada sampai saat ini. Oleh karena itu kedepan perlu pengelola Manajemen distribusi di daerah (transportasi dan pergudangan) profesional, alternatifnya bisa dikelola oleh BUMD dan BUMDes Agro.

Ketiga yang harus dibangun adalah Lingkungan Tata Niaga, Hal ini lebih kepada orientasi pasar, apakah pasar lokal atau luar negeri. Menurut kami saat ini kita bisa maksimalkan pasar lokal saja dulu, karena berfikir ekspor lebih rumit. Sebagai contoh, kita harusnya bisa mengatur seluruh kebutuhan cabe di Sumbar disediakan oleh hasil pertanian Sumbar. Kenyataan yang kami temukan, begitu panen raya cabe di Sumbar, masuklah cabe dari luar Sumbar, yang logika costing-nya (perhitungan biaya produksi dan transportasinya) tidak mungkin akan lebih rendah dari produksi dalam sumbar. Itulah kenyataan nya, menurut kami itu karena lemahnya kita pada aspek Tata Distribusi dan Tata Niaga.

Lingkungan Tata Tanam, Tata Distribusi dan Tata Niaga adalah Pondok Tani Modern. Mari kita urus bersama, jangan sampai bernasib sama seperti surau versi AA. Nafis (1956), judulnya sekarang “Robohnya Pondok Tani Kami”. Utamapos.com