Utamapos.com
By jurnalis SHI News Supremasi hukum indonesia

Oleh : MARZILIS
Dalam memilih pemimpin nasional, janganlah memilih seseorang hanya sekadar popularitas , pencitraan saja dan bagi -bagi UANG pada saat mau pemilu, karena perubahan atau baik buruknya negara ditangan mereka selama 5 tahun kedepan.
“Pilihlah pemimpin yang sudah jelas visinya, dan sudah jelas rekam jejaknya”.
Pemimpin juga harus bersih,aspiratif, dan bisa menjadi problem solver.
Demokrasi Indonesia yang masih rendah.
Beberapa faktor yang menentukan diantaranya adalah partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum serta sejauh mana birokrasi menjadi netral dalam pelaksanaan Pemilu.
Politik di Indonesia pun masih rawan manipulasi. Belum lagi jika “bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan terhormat , dan memberikan penampilan soliditas angin murni,” sebagai mana kata novelis George Orwell.
Maka mereka yang mendiamkan, adalah mempercayai, atau setidaknya meloloskan politikus -politikus busuk lewat di depan hidung.
“Kualitas demokrasi kita masih belum tercapai sebagai mana yang kita diharapkan.”
Untuk itulah kita mengajak kembali mahasiswa, sebagai agent of change, untuk turut mencerdaskan rakyat, termasuk dalam menuntun masyarakat untuk memilih pemimpin yang tepat memiliki latar belakang yang jelas baik pendidikan dan kehidupannya di tengah tengah masyarakat selama ini.
Bahkan mahasiswa merupakan pilar keempat demokrasi, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Sejarah menunjukkan berbagai peran strategis mahasiswa terhadap bangsa ini. Misalnya ketika perjuangan tahun 1908 yang merupakan awal dari pergerakan sumpah pemuda.
Semoga mahasiswa dan masyarakat mampun kembali menjadi agen perubahan untuk negeri ini dengan saling selektif memilih siapa wakil wakil mereka dan pemimpin yang pantas dipilih.
Selain itu peran mahasiswa dalam pergerakan reformasi tahun 1998. “Pilar demokrasi keempat bukan hanya pers, tetapi juga mahasiswa sebagai garda terdepan agen perubahan menuju indonesia maju”.

Komentar