
Pekanbaru, 7 Agustus 2025 – Inovasi kreatif dan peduli lingkungan ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Fakultas Pertanian Universitas Riau (UNRI) yang saat ini tengah melaksanakan pengabdian masyarakat di Kelurahan Meranti Pandak Kota Pekanbaru. Dalam program KUKERTA ini, para mahasiswa berhasil menyulap sampah rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) menggunakan metode ember tumpuk, serta mengubah botol bekas menjadi kebun vertikal yang ramah lingkungan.
Program ini bermula dari keprihatinan mahasiswa terhadap banyaknya sampah rumah tangga yang terbuang sia-sia, terutama sampah organik seperti sisa sayur, nasi, kulit buah, serta air cucian beras yang sehari-hari dibuang begitu saja. Di sisi lain, mereka juga melihat peluang untuk mengurangi limbah plastik botol yang seringkali hanya menjadi sampah tak terurai di lingkungan. Berdasarkan masalah tersebut, mahasiswa KUKERTA merancang program edukatif dan aplikatif berbasis pemanfaatan limbah.
“Kami melihat bahwa permasalahan sampah itu sebenarnya bisa diatasi mulai dari rumah sendiri. Oleh karena itu, kami mengenalkan metode ember tumpuk sebagai cara sederhana mengolah sampah organik menjadi pupuk cair, dan memanfaatkan botol bekas sebagai media tanam vertikal yang bisa diterapkan di halaman rumah yang sempit,” ujar Parhan Pratama, Ketua Kelompok KUKERTA-MBKM Fakultas Pertanian UNRI.
Metode ember tumpuk merupakan teknik pengomposan sederhana yang hanya membutuhkan dua ember bekas. Ember bagian atas digunakan untuk menampung sampah organik seperti sisa makanan sementara ember bagian bawah berfungsi menampung cairan hasil fermentasi. Untuk menjadi pupuk organik cair yang dapat digunakan hasil fermentasi ditunggu kurang lebih 32 hari sampai warnanya coklat bening seperti warna teh.
Selain itu, dalam program ini para mahasiswa juga mengajak Ibu-ibu PKK di Kelurahan Meranti Pandak untuk mengubah botol plastik bekas menjadi media tanam vertikal yang hemat ruang dan estetis. Botol-botol tersebut dibersihkan, dilubangi, kemudian diisi dengan tanah dan bibit sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi. Botol kemudian digantung dikerangka yang sudah dibuatkan sehingga menjadi kebun gantung vertikal yang menarik.
“Kami ingin memberikan contoh bahwa bertani itu tidak harus punya lahan luas. Dengan botol bekas pun, siapa saja bisa mulai menanam. Ini juga bisa jadi solusi untuk urban farming di lingkungan perkotaan yang lahannya terbatas,” tambah Parhan.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari warga setempat, khususnya ibu-ibu PKK yang tertarik untuk mengembangkan kebun botol di pekarangan rumah mereka.
” Insyaallah akan saya coba terapkan dirumah sebagaimana yang sudah disosialisasikan oleh adik-adik dari KKN UNRI tadi, dan saya sangat terbantu dengan sosialisasi yang diadakan, semoga yang coba dapat berhasil seperti yang disosialisasikan.” Ungkap salah satu ibu-ibu PKK, Ibu Dewi, yang ikut dalam sosialisasi.
Program ini tidak hanya bertujuan menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sarana edukasi masyarakat tentang pertanian ramah lingkungan dan daur ulang sampah. Mahasiswa juga berharap agar kegiatan ini bisa terus dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri, bahkan berkembang menjadi gerakan lingkungan berkelanjutan.
“Kami berharap setelah kami selesai KUKERTA nanti, warga bisa melanjutkan program ini sendiri. Karena ini bukan hanya kegiatan sesaat, tapi bagian dari perubahan pola pikir tentang pentingnya menjaga lingkungan,” tutup Parhan.
Melalui program ini, Mahasiswa KUKERTA-MBKM Fakultas Pertanian UNRI menunjukkan bahwa inovasi tak selalu harus mahal dan rumit. Dengan alat sederhana, kreativitas, dan semangat kolaboratif, sampah bisa menjadi berkah, dan lingkungan bisa menjadi lebih hijau dan produktif.







Komentar