Dalam Kubah Podcast (Bagian V-Terakhir)

News Update323 Dilihat

Dalam Kubah Podcast (Bagian V-Terakhir)

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Hujan masih terdengar di bagian “rooftop” dan jatuh ke bumi. Setelah tadi deras tiada henti, perlahan tetes demi tetes terdengar ringan dan kian mereda. Meski guntur sesekali terdengar, merasa sudah cukup kondusif, kami bersepakat untuk melanjutkan podcast yang sempat diundur beberapa jam dari jadwal sebelumnya. “Hujan berkah” ucap Ukhty Feni.

“Ya, langsung dilanjut!” Jawabku untuk menyegerakannya agar terpenuhi agenda selanjutnya yang sangat mepet.

“Apa kamu sadar, bahwa kita hanya mengukur waktu?” “Maksudku bahwa kau menyuruh bersegera meski sebenarnya aku sudah tidak ingin!” Sambungku.

“Lah, kenapa?! Ini sudah terjadwal!” Sanggahnya.

“Tapi aku sudah tidak mau”, “lagian lima belas menit lagi aku harus mengisi kajian di canelku.” “Aku tidak mau lagi!” Tegasku.

Ukhty Feni kemudian menatapku serius, namun lembut. Rona wajahnya kali ini mengingatkanku saat menerima tawaran untuk melakukan podcast serial dakwah ini. “Oh!” Balasku reflek.

“Maaf, hanya saja aku sudah ada jadwal tetap sebentar lagi!” Lanjutku.

Dia pun tersenyum. Terlihat gigi ompongnya. Suasana hatiku seketika berubah iba. Namun seketika juga terpikir akan jadwalku tadi. Hasratku kembali kepada keaadaranku. “Aku tidak mau mengorbankan jadwal pertamaku, maaf!” Jawabku singkat.

Tidak beranjak pergi. Logika dan hatiku berdialektik dalam sebuah ulasan di masa lalu yang menimpa Ukhty Feni dengan kondisi primanya dan kekurangannya saat ini.

“Bukankah aku menerima tawaran ini lantaran keinginanku. Ukhty Feni hanya menawarkan saja.” Tapi kok sekarang beda.” Pikirku.

“Sebentar, sebentar, sebentar…!” Ini nestapa, aku menerima tawaran podcast karena kesepakatan dengan Ukhty Feni, tapi kini dia sudah berubah!”

Baca Juga:  Melalui Zoom Meeting Diruang Vicon Kejaksaan Tinggi Maluku AGOES SP Kunjungan Kerja Jaksa Agung ST.Burhanuddin Secara Virtual

“Ya sudah, nyalakanlah kamera. Saya akan bicara sepatah dua patah kata saja.” “Nanti kami kembangkan dengan diskusi!”

“Tidak perlu berlama-lama, langsung saja!” “Terkait durasi nanti coba ukhty maksimalkan di pengeditan!” Saranku dengan nada lembut.

Seketika kamera menyala dan segera pun Ukhty Feni membukanya dengan salam dan tidak terlewatkan puji-pujian kehadirat Tuhan dan tentunya disusul sholawat. “Menurut kamu isu Timur Tengah ini apa relevan untuk diperbincangkan di Indonesia yang juga memiliki segudang persoalan?!” Tanyanya dan langsung bersifat menohokku.

“Waw, meski pembukaan kualitas pertanyaannya sudah kayak mengcover semua persoalan dari awal ke akhir ya?!” Sindirku kepadanya.

“Gini, setiap harinya aku sibuk mencari media untuk korespondensi seputar artikel.” “Saat diterima aku senang dan bersyukur.” “Jika ditolak, aku yakin ada kesempatan mungkin di media lain.”

“Bagiku, artikel-artikel tersebut dapat berkontribusi positif termasuk terhadap persoalan di sana dan akan membawa pengaruh ke sini.”

“Besar harapan saya selain kebaikan adalah tidak membawa persoalan baru.” “Termasuk terhadap masyarakat di negara kita yang makan saja harus mikir.” Jelasku.

“Jelas ada hubungannya ya, setiap kebaikan yang dibuat dengan kondisi kehidupan kita di segala penjuru dunia.” “Bukankah tidak ada yang sia-sia?!” Tutupnya diiringi sholawat dan salam serta pujian kepada Tuhan dan salam.

Kamera telah dalam kondisi “off”. Ukhty Feni bersegera menyapaku dan mengulurkan tangan dan aku segera menjabatnya sambil bersegera meninggalkan ruang dengan tanpa ada perasaan janggal, demikian juga harapanku sebaliknya. “Ini kesempatan terakhirku dalam podcast tersebut.” Tutup pikirku. TAMAT

Komentar