Apakah Greater Jakarta Penipuan? Review Pengalaman Terbaru!

Berita utama, Jakarta2586 Dilihat

Belakangan ini, banyak netizen di Indonesia mengeluhkan menerima telepon berulang kali dari nomor tak dikenal dengan label “Greater Jakarta.” Yang membuat mencurigakan, panggilan ini sering kali terjadi beberapa kali dalam sehari, bahkan hingga belasan kali.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari mereka yang menerima telepon tersebut mengaku bahwa percakapan diarahkan kepada data kartu kredit, penawaran asuransi fiktif, atau verifikasi data palsu.

Dalam beberapa kasus, korban bahkan diminta menyebutkan nomor di balik kartu kredit, yang jelas merupakan informasi sensitif.

Bagaimana Kronologi Di Telepon Greater Jakarta?

Dari berbagai testimoni dan rekaman yang beredar, berikut adalah pola atau modus yang kerap digunakan oleh penelepon yang mengaku dari Greater Jakarta:

  1. Pelaku menelepon korban dengan suara ramah dan sopan.

  2. Mengaku dari pihak bank atau penyedia layanan keuangan resmi (contohnya BRI).

  3. Membahas informasi kartu kredit milik korban, seperti status pengaktifan kartu, iuran tahunan, dan manfaat lainnya.

  4. Mengaku ingin membantu menghapus iuran tahunan atau meningkatkan manfaat kartu.

  5. Pelaku kemudian meminta data sensitif, seperti nomor kartu kredit, khususnya angka 16 digit dan CVV di belakang kartu.

  6. Ketika korban curiga, pelaku tetap bersikeras bahwa mereka bukan penipu dengan menyebutkan bahwa mereka tidak meminta PIN atau data ibu kandung, padahal tetap saja mereka sedang mengorek data penting lainnya.

Apakah Greater Jakarta Penipuan?

Setelah menelusuri dari beberapa pengalaman netizen yang pernah ditelepon, ternyata greater Jakarta adalah penipuan. Ada beberapa tanda bahwa panggilan dari nomor ini adalah upaya penipuan:

  • Pelaku mengetahui data pribadi korban, terutama yang baru saja menerima kartu kredit. Ini menandakan adanya kebocoran atau jual beli data pribadi.

  • Nomor yang digunakan adalah nomor rumah atau nomor VOIP yang tidak bisa dilacak dengan mudah.

  • Banyak korban melaporkan kejadian serupa di YouTube dan komentar publik, menunjukkan bahwa ini adalah modus masif dan terorganisir.

  • Ada korban yang kehilangan uang hingga Rp15 juta, dan bahkan dipaksa untuk mentransfer lebih banyak lagi dengan ancaman jika tidak menuruti permintaan.

  • Konten video dan komentar netizen memperjelas bahwa panggilan seperti ini sudah terekam sebagai modus lama dengan gaya baru.

Baca Juga:  Diduga Adanya Perampasan Kendaraan, Jufri Melapor Ke Polresta Bukittinggi

Komentar dan Pengalaman Netizen

Berikut beberapa kutipan dari netizen yang membenarkan bahwa ini adalah penipuan:

  • “Tadi jam 9 saya ditelpon Greater Jakarta sampai 14x! Dia tahu nomor saya yang kedua juga!”

  • “Barusan kakak saya jadi korban, kena lebih dari 15 juta!”

  • “Modusnya asuransi, disuruh bayar 260 ribu per bulan.”

  • “Langsung saya blokir dan nyari di YouTube, ternyata banyak yang mengalami.”

  • “Mereka tahu informasi kartu kredit saya, padahal baru aktif seminggu.”

Tips Menghindari Penipuan dari Greater Jakarta

  1. Jangan angkat telepon dari nomor tak dikenal, apalagi jika muncul label seperti “Greater Jakarta.”

  2. Jangan pernah memberikan informasi pribadi atau keuangan melalui telepon, termasuk nomor kartu kredit, CVV, PIN, atau OTP.

  3. Aktifkan fitur blokir otomatis untuk nomor tidak dikenal di smartphone kamu.

  4. Laporkan nomor mencurigakan ke aplikasi seperti GetContact, Truecaller, atau langsung ke penyedia layanan operator.

  5. Jika kamu merasa sudah memberikan data pribadi, segera hubungi pihak bank untuk memblokir kartu dan lapor ke OJK dan kepolisian.

Kesimpulan

Greater Jakarta bukanlah lembaga resmi, melainkan label yang digunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menipu korban melalui panggilan telepon. Modusnya terstruktur dan berbahaya karena pelaku memiliki data pribadi korban. Maka dari itu, tetap waspada dan jangan sembarangan memberikan informasi pribadi lewat telepon.

Komentar